Artikel KesehatanPsikologi Kepribadian

Penggolongan Darah Sistem Rhesus

Penggolongan Darah Sistem Rhesus – Sebelumnya kita telah membahas tentang jenis golongan darah dengan sistem ABO. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang penggolongan darah dengan sistem rhesus.

Iklan

Sistem rhesus merupakan penggolongan darah berdasarkan ada atau tidaknya antigen-D di dalam sel darah merah. Orang yang dalam darahnya mempunyai antigen-D disebut Rhesus Positif (RH+), sedangkan orang yang dalam darahnya tidak mempunyai antigen-D disebut dengan Rhesus Negatif (RH-).

Penggolongan darah sistem rhesus ini ditemukan oleh Landsteiner dan Wiener pada tahun 1940. Disebut Rhesus karena oada saat itu Landsteiner-Wiener melakukan riset dengan menggunakn darah kera Rhesus, yang merupakan salah satu spesies kera yang banyak dijumpai di India dan Cina.

Di dunia ini, 85% penduduknya mempunyai Rhesus Positif (RH+) dalam darahnya, sementara 15% sisanya memiliki Rhesus Negatif (RH-). Pada ras orang barat seperti orang Eropa, Amerika, dan Australia jumlah pemilik Rhesus Negatif adalah sebesar 15% – 18%. Sedangkan untuk ras Asia, persentase pemilik Rhesus Negatif jauh lebih kecil. Menurut data Biro Pusat Statistik pada tahun 2010, hanya kurang dari satu persen penduduk Indonesia yang memiliki Rhesus Negatif.

Mengingat kecilnya jumlah orang yang mempunyai Rhesus Negatif, maka jumlah pendonor Rhesus Negatif menjadi sangat langka. Ketersediaan darah Rhesus Negatif sangat terbatas. Akibatnya, pasien atau orang yang membutuhkan darah dengan Rhesus Negatif sangat kesulitan untuk mendapatkannya.

Jenis penggolongan darah sistem rhesus ini seringkali digabungkan dengan penggolongan darah sistem ABO dengan menambahkan (+) bagi pemilik faktor Rhesus dan (-) bagi yang tidak memiliki faktor Rhesus. Sehingga seringkali kita mengenali golongan darah A+ atau A-, B+ atau B-, AB+ atau AB-, dan O+ atau O-.

Transfusi darah harus melihat penggolongan darah Rhesus antara pendonor dan penerima

Ketidakcocokan Rhesus pada transfusi darah bisa mengakibatkan terjadinya pembekuan darah yang fatal dampaknya, yaitu kematian resipien atau si penerima darah.

Dalam sistem Rhesus terdapat aturan khusus terkait dengan urusan transfusi darah. Pemilik Rhesus Negatif tidak boleh ditransfusi dengan darah Rhesus Positif. Hal ini dikarenakan sistem pertahan tubuh si resipien (penerima donor) akan menganggap darah (Rhesus Positif) dari donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan seperti halnya dengan virus atau bakteri. Sebagai bentuk dari perlawanan, tubuh si pasien akan membentuk Anti Rhesus.

Anti Rhesus ini akan menyerang dan memecah sel-sel darah merah dari donor, sehingga ginjal harus bekerja keras mengeluarkan sisa pemecahan sel-sel darah merah. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan tujuan transfusi darah tidak tercapai, tetapi justru akan memperparah kondisi resipien itu sendiri.

Berikut tabel kecocokan darah yang merupakan penggabungan penggolongan darah sistem Rhesus dengan sistem ABO.

ResipienDonor
O-O+A-A+B-B+AB-AB+
O-xxxxxxx
 O+xxxxxx
A-xxxxxx
 A+xxxx
B-xxxxxx
 B+xxxx
AB-vxxx
 AB+

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Adblock Terdeteksi

Harap matikan Adblock